Kepala Forensik RS Polri Angkat Bicara Soal ABG Bunuh Bocah, Kemungkinan NF Tak Merasa Bersalah

NF (15), pelaku pembunuh tetangganya sendiri, APA (5), tengah menjalani observasi kejiwaan di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Kepala Instalasi Forensik RS Polri Kramat Jati Kombes Sumy Hastry Purwanti mengatakan, tindakan NF didasari kurangnya rasa empati. Meski demikian, NF disebut masih memiliki sedikit rasa bersalah sehingga menyerahkan diri ke polisi.

Kejiwaan pelaku kriminal memang membingungkan sehingga perlu dilakukan pemeriksaan jiwa dalam waktu cukup lama. Hastry yang termasuk anggota tim dokter psikiatri jiwa forensik RS Polri Kramat Jati mengibaratkan kejiwaan NF dengan kata ambigu. "Ada kemungkinan dia enggak merasa membunuh, tapi dia tetap ingin membunuh. Jadi seperti terbolak balik, ambigu," ujarnya.

Merujuk pelaku pembunuhan yang pernah diperiksa, Hastry menuturkan, kebanyakan dari mereka cenderung berkata jujur. Baik pengakuan puas setelah membunuh dan sedikit rasa bersalah yang telat muncul berkecamuk dalam pikiran pelaku. "Kalau yang saya tanyakan ke pelaku pembunuhan itu mereka masih ada rasa kasihan. Mereka masih ada rasa baik hati, rasa menyesal, tapi sedikit," tuturnya.

Masa observasi terhadap NF setidaknya akan berlangsung selama 14 hari. NF ditangani oleh sejumlah tim dokter kejiwaan yang telah dibentuk pihak RS Polri Kramat Jati. Adapun tujuan pemeriksaan kejiwaan NF dilakukan guna memastikan apakah NF mengalami gangguan kejiwaan atau tidak.

Publik sebelumnya dikejutkan dengan berita pembunuhan seorang bocah berinisial APA (5) yang dilakukan oleh tetangganya sendiri, yakni seorang remaja berinisial NF (15). Peristiwa pembunuhan tersebut terjadi di daerah Sawah Besar, Jakarta Pusat, Kamis (5/3/2020). Pembunuhannya tergolong sadis.

Sikap pelaku pembunuhan yang mengaku tidak menyesal juga mendapatkan sorotan dari publik. Berikut ini adalah sejumlah fakta yang sudah terungkap dalam kasus tersebut: Peristiwa pembunuhan itu terungkap ketika NF menyerahkan diri ke Polsek Taman Sari, Jakarta Barat, Jumat (6/3/2020).

Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Heru Novianto mengatakan, kepada polisi, NF mengaku telah membunuh tetangganya sendiri dan menyimpannya di dalam lemari di kamarnya. "Korban bermain dengan tersangka, kemudian tersangka membunuh korban. Setelah itu, tersangka memasukkan korban ke dalam lemari baju yang ada di dalam kamar tersangka," ungkap Heru, Jumat. Selanjutnya, polisi melimpahkan tersangka ke Polsek Sawah Besar guna penyelidikan lebih lanjut.

Orangtua korban sempat menduga anaknya menjadi korban penculikan karena tak kunjung pulang ke rumah usai bermain ke rumah NF. Korban dan tersangka diketahui bertetangga. Kemudian, orangtua korban melaporkan peristiwa dugaan penculikan itu kepada Ketua RT setempat. Ketua RT setempat, SO, mengatakan orangtua korban bersama warga mencari keberadaan korban ke rumah tersangka NF. Bahkan, mereka juga mengecek kamar tersangka.

"Jadi memang orangtuanya (korban) ini lapor ke saya, bilang anaknya enggak pulang pulang. Akhirnya kita cari, kita juga sempat ke atas (kamar tersangka) cuma lihat kamar kosong," kata SO. Keluarga korban baru mengetahui peristiwa pembunuhan yang menimpa anaknya ketika polisi mendatangi TKP pada Jumat pagi. "Pas Jumat pagi itu, ada polisi datang dari Polsek Taman Sari, saya juga enggak tahu (kalau korbam dibunuh), katanya anaknya (tersangka) lapor dan menyerahkan diri," ungkap SO.

Heru mengatakan, tersangka membunuh korban ketika korban bermain ke rumah tersangka. Bahkan, kepada polisi, tersangka mengaku secara sadar membunuh korban. Heru menjelaskan, APA yang berkunjung ke rumah tersangka dibunuh dengan cara ditenggelamkan ke dalam bak mandi, dicekik, dan dimasukkan ke dalam lemari di kamarnya.

Sebelumnya, tersangka sempat berniat membuang jenazah korban. Namun, tersangka mengurungkan niatnya tersebut dan tetap menyimpan jenazah korban dalam lemari. "Awalnya mau dibuang karena sudah menjelang sore, akhirnya disimpan di dalam lemari," ungkap Heru.

Keesokan harinya, tersangka secara sadar beraktivitas seperti biasa. Dia berangkat ke sekolah dan meninggalkan jenazah korban di dalam kamarnya. Saat perjalanan menuju sekolah, tersangka memilih berganti pakaian dan menyerahkan diri ke Polsek Taman Sari.

Keterangan awal tersangka kepada polisi, dia mengaku merasa puas setelah membunuh korban. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus mengatakan, tersangka kerap menonton film bergenre horor atau film dengan adegan sadis. Salah satu film yakni Chucky, film tentang boneka pembunuh yang populer tahun 1980 an merupakan inspirasi NF membunuh APA.

"Tersangka ini sering menonton film horor, salah satunya Chucky. Dia senang menonton film horor, itu memang hobinya," ujar Yusri di Polres Jakarta Pusat, Sabtu (7/3/2020). Kepada polisi, tersangka juga mengaku memiliki hasrat untuk membunuh orang lain. Kebetulan, korban lah yang berada di rumahnya saat hasrat membunuhnya muncul.

"Memang tersangka ini punya hasrat untuk membunuh orang, tapi saat hari itu dia sudah tidak bisa menahan lagi," ungkap Yusri. Tak hanya memiliki hasrat membunuh orang lain, Yusri mengatakan, tersangka juga memiliki kebiasaan tak wajar, yakni membunuh hewan hewan tanpa alasan. "Sejak kecil pelaku senang bermain dengan binatang dan membunuh binatang dengan gampang," kata Yusri.

Yusri mengungkapkan, tersangka juga suka memelihara kucing. Kendati demikian, dia tak segan membunuh hewan peliharaannya tanpa alasan. "Dia mempunyai hewan kesayangan, hewan peliharaan kucing, Tapi kalau lagi kesal, (kucing) itu bisa juga dilempar dari lantai 2," ungkap Yusri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *