Viral Dokter Berbaju APD Mendaki Gunung sampai Seberangi Sungai Demi Obati Anak Demam di Pedalaman

Meski harus mendaki gunung sampai menyeberangi sungai, seorang dokter bernama Soi rela jatuh bangun demi periksa kondisi seorang anak di desa terpencil. Sebuah potret viral menunjukkan perjuangan seorang dokter bernama Soi yang rela mendaki gunung hingga menyeberangi sungai mengenakan Alat Pelindung Diri / APD lengkap. Dokter asal Thailand tersebut memutuskan untuk mendaki dua gunung demi mencapai sebuah desa terpencil di sebuah pedesaan di provinsi Nan.

Dalam potret tersebut, dokter Soi tampak mengenakan APD lengkap dan serba tertutup berwarna biru terang. Sebuah topi dengan kaca penutup serta masker juga bertengger di kepalanya. Cerita dokter Soi menjadi viral setelah dibagikan oleh akun Facebook Provinsi Nan.

Hatinya tergerak saat mendapati laporan adanya seorang anak yang mengalami demam di sebuah desa terpencil. Saat itu adalah hari yang panas dan dokter Soi bekerja seperti biasa di klinik. Saat sedang makan siang sambil membaca file, datanglah seseorang melaporkan ada anak yang menderita demam.

Anak tersebut tengah menjalani karantina bersama keluarganya. Rumah keluarga tersebut ternyata berada di daerah yang berbeda dan cukup jauh dari klinik. Dokter Soi berkata bahwa dia akan mengunjungi anak itu untuk memeriksanya.

Dia pun bergegas mengenakan APD lengkap sebagai tindakan pencegahan. Juga mengenakan sepatu bot hujan karena dia tahu dia harus menyeberangi sungai serta membawa beberapa persediaan medis di dalam tas. Dia kemudian berangkat ke lokasi dengan sepeda motor dengan seorang asisten.

Ketika mereka berada di daerah pedesaan, hanya ada jalan tanah yang curam dan sempit. Sering kali doter Soi perlu berjalan sementara asistennya mengendarai sepeda motor. Belum lagi cuaca saat itu sangat panas mencapai 38 derajat Celcius sambil membawa tas berat berisi peralatan medis.

Tepat sebelum tujuan mereka, ada jalan yang sangat curam dan dokter Soi sudah kelelahan saat itu. Ketika asistennya mencapai puncak, dia bertanya apakah dokter Soi baik baik saja. Meskipun sangat lelah, dia mengatakan bahwa dia baik baik saja.

Dengan berat tas yang dipegangnya di satu sisi, dia memegang akar atau pohon yang bisa untuk menopang tubunhnya. Karena kondisinya yang letih, ia terus tergelincir dan jatuh. Ketika akhirnya sampai di puncak, dia melihat sebuah gubuk kecil di kejauhan.

Semakin dekat, dia dapat melihat bahwa gubuk kayu kecil itu berada di tengah tengah sebuah peternakan dan ada sekitar enam orang di sana, dua wanita tua dengan empat anak. Mereka sangat senang melihat dokter dan asistennya. Dokter Soi merasakan air matanya mengalir tetapi dia menutupinya dengan bertanya kepada anak anak apakah tinggal di pertanian itu menyenangkan.

Semua orang mengatakan itu menyenangkan. DokterSoi mulai memeriksa anak yang sakit. Anak itu mengalami sedikit demam dan sakit tenggorokan, jadi dia memberi mereka obat dan meminta ibu untuk memantau kondisi anaknya.

Sepulangnya,dokterSoi yang sangat kelelahan tapi tak bisa tidur dengan tenang karena memikirkan kondisi anak itu. Setelah tiga hari, orang yang bertugas mengirim makanan dan air ke keluarga yang dikarantina itu datang ke klinik dan mengatakan kepadadokterSoi bahwa anak itu telah pulih. Merasa lega,dokterSoi mengatakan bahwa dengan berinteraksi dengan penduduk desa, dia melupakan semua kelelahan dan kesulitan yang dia hadapi selama bekerja.

Yang dia inginkan hanyalah agar mereka menerima perawatan kesehatan yang baik. Sebelum kisah dokter Soi viral, di Indonesia berbagai kisah perjuangan tenaga medis juga terekspos. Sebuah video viral merekam detik detik dua petugas yang membawa peti jenazah pasien corona tak kuat mengangkat sampai jatuh berkali kali.

Dalam video tersebut, tampak dua petugas mengeluarkan peti berwarna cokelat dari mobil ambulans. Namun, ketika bersiap memposisikan diri untuk mengangkat peti, dua petugas itu terlihat tidak kuat. Bahkan, peti jenazah itu nyaris terjatuh dan kembali diletakkan di tanah.

Terdengar warga yang merekam tampak mengingatkan jika kedua petugas itu tidak kuat. "Astaghfirullah, nggak kuat itu, Pak. Aduh, nggak mampu pak. nggak kuat. dua orang lagi itu," kata warga bersahutan. Namun, kedua petugas tetap bersikukuh mengangkat peti jenazah.

Ketika jalan tampak landai turun, peti jenazah kembali diletakkan karena terlalu berat. Berdasarkan nama yang tertera di ambulans bertuliskan RSUD Genteng. Diduga video itu direkam di Dusun Krajan, Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Mendapati dugaan kelelahan yang dirasakan oleh para petugas penanganan jenazah Covid 19, banyak warganet yang bersimpati dan mendoakan kesehatan mereka. "Semoga sehat selalu ya mas, mbak," tulis akun @firzaidid. "Kerja di bawah tekanan, taruhannya nyawa, nggak kebayang gimana jadi mereka," tandas @kurniawan_deni.

"Ya Allah kasian, sehat selalu para nakes. Aamiin," tulis @lindakusuma.w.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *